Selasa, 27 Januari 2015








Amsal 2:4-5

"jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah."





Senin, 12 Januari 2015

Bukan Lagi Di Level Memberi Perpuluhan







            Saya terkadang heran pada diri saya sendiri, terkadang pikiran saya tidak sampai pada satu hal atau satu perkara. Di sinilah hikmat diperlukan, dan sering kali harganya amat mahal.
            Ini adalah perenungan saya di hari-hari yang cukup berat dalam menghadapi ujian keuangan yang saya hadapi sejak kepindahan saya ke tempat tinggal saya yang sekarang di bulan Juni yang lalu. Bedanya, tahun lalu saya menghadapi ujian ini dengan meraung-raung, menangis dan menyalahkan orang lain termasuk Tuhan. Saya kecewa berat: katanya hamba Tuhan, tapi kok bokek, padahal katanya harus diberkati untuk menjadi berkat.
            Dulu saya berjuang untuk selalu memberikan perpuluhan dari uang yang dikirimkan ke saya, lalu setelah masuk kuliah dan dimuridkan, saya belajar untuk menabur untuk pekerjaan Tuhan (memberi dengan sukarela di luar persembahan ke kantong kolekte). Namun ada hal lain yang melebihi itu, yaitu memberi dari kekurangan kita, yang artinya kita menyalibkan diri demi kepentingan sesama kita.
            Yohanes 15:13
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberi nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
            Dulu ketika membaca ayat ini saya berpikir bahwa memberi nyawa itu adalah dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mati bagi orang lain, namun ternyata tidaklah demikian sepenuhnya.
            Saya mendapati bahwa ayat yang dimaksudkan di atas adalah mematikan daging dan kesenangan kita demi orang lain, bahkan mengorbankan kebutuhan kita sendiri demi sesama kita, yang artinya walaupun kita tidak makan karena harus memberikan uang kita agar orang lain dapat makan. Itulah artinya menyerahkan nyawa kita bagi sahabat kita.
            Saya sering kali mendengar seorang sahabat saya menceritakan kesulitannya secara keuangan, tapi saya sama sekali tidak peka. Seandainya memang saya tidak dapat membantu secara keuangan, paling tidak saya dapat menolong dia dengan cari lain, namu saya tidak melakukannya dengan pikiran bahwa dia dapat mengatasi masalahnya sendiri. Tapi tampaknya mata dan telinga saya tertutup, saya benar-benar tidak peka akan kebutuhannya.
Dia bilang habis pulsa, saya tidak belikan pulsa, dia bilang bensin motornya habis, saya tidak belikan bensin, dia bilang butuh dana untuk bayar kuliah, saya tidak melakukan sesuatu untuk meringankannya, padahal saya bisa membantu dia, walaupun mungkin mengorbankan kebutuhan dan gengsi saya. Namun, pikiran saya tidak sampai ke sana, saya hanya sebatas mendengar kebutuhannya lalu melupakannya.
Malalui ujian keuangan yang kualami, aku sadar betul akan hal ini, yaitu mengorbankan diri demi kepentingan orang lain, walaupun mungkin aku harus kekurangan karenanya. Karena apalah artinya jika dapat memberi dari kelebihan kita, bukankah janda yang miskin telah memberikan teladan yang baik bagi kita dalam hal ini.
Bagaimana kita dapat menjadi terang di luar sana, jika di tengah teman-teman dan keluarga, komunitas dan gereja, kita tidak menunjukan terang dengan cara saling membantu dan meringankan beban satu sama lain. Kasih itu seharusnya ditunjukkan dengan saling membantu dan meringankan beban sesama kita, bukan malah cuek dan tidak peduli akan nasib orang lain, menganggap hal itu adalah medan yang harus dia perangi sendiri.
Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan bahwa Ia membuka mata hati saya agar menjadi lebih peka. Jika seseorang mengatakan dia tidak punya pulsa, itu artinya dia tidak punya uang untuk membelinya, di situlah saya harus bertindak dan menunjukkan kasih kepadanya dengan cara membelikan pulsa yang dia butuhkan, begitu juga dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Harus memandang jauh ke depan, bukan hanya sebatas melihat, mendengar lalu melupakan kebutuhan dan beban orang lain, tapi peduli dan praktekkan kasih itu secara nyata dengan saling membantu dan meringankan beban satu sama lain, agar dia juga tidak tersandung.
Untuk mencapai pemahaman ini, saya harus melewati masa-masa ujian keuangan, dan sampai sekarang masih menghadap ujian tersebut. Jika tidak mengalami sendiri apa yang namanya kekurangan, mungkin saya tidak akan sadar dan tetap cuek dengan kebutuhan dan beban orang lain.
Saya menarik kesimpulan dan memahami apa artinya kasir. Jika saya diberi berkat, itu artinya bukan hanya untuk diri saya dan kepentingan pribadi, tetapi disalurkan juga bagi orang lain, sekalipun harus mengorbankan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri. Itulah goal nomor 7: Diberkati untuk menjadi berkat.
Sekarang bukan lagi saatnya hanya untuk memberikan perpuluhan, persembahan dan taburan, tetapi juga memberi dari kekurangan kita. Tuhan Yesus memberkati.