Saya terkadang heran pada diri saya
sendiri, terkadang pikiran saya tidak sampai pada satu hal atau satu perkara.
Di sinilah hikmat diperlukan, dan sering kali harganya amat mahal.
Ini adalah perenungan saya di
hari-hari yang cukup berat dalam menghadapi ujian keuangan yang saya hadapi
sejak kepindahan saya ke tempat tinggal saya yang sekarang di bulan Juni yang
lalu. Bedanya, tahun lalu saya menghadapi ujian ini dengan meraung-raung,
menangis dan menyalahkan orang lain termasuk Tuhan. Saya kecewa berat: katanya
hamba Tuhan, tapi kok bokek, padahal katanya harus diberkati untuk menjadi
berkat.
Dulu saya berjuang untuk selalu
memberikan perpuluhan dari uang yang dikirimkan ke saya, lalu setelah masuk
kuliah dan dimuridkan, saya belajar untuk menabur untuk pekerjaan Tuhan
(memberi dengan sukarela di luar persembahan ke kantong kolekte). Namun ada hal
lain yang melebihi itu, yaitu memberi dari kekurangan kita, yang artinya kita
menyalibkan diri demi kepentingan sesama kita.
Yohanes 15:13
“Tidak
ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberi nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya.”
Dulu ketika membaca ayat ini saya
berpikir bahwa memberi nyawa itu adalah dalam arti yang sesungguhnya, yaitu
mati bagi orang lain, namun ternyata tidaklah demikian sepenuhnya.
Saya mendapati bahwa ayat yang dimaksudkan
di atas adalah mematikan daging dan kesenangan kita demi orang lain, bahkan
mengorbankan kebutuhan kita sendiri demi sesama kita, yang artinya walaupun
kita tidak makan karena harus memberikan uang kita agar orang lain dapat makan.
Itulah artinya menyerahkan nyawa kita bagi sahabat kita.
Saya sering kali mendengar seorang
sahabat saya menceritakan kesulitannya secara keuangan, tapi saya sama sekali
tidak peka. Seandainya memang saya tidak dapat membantu secara keuangan, paling
tidak saya dapat menolong dia dengan cari lain, namu saya tidak melakukannya dengan
pikiran bahwa dia dapat mengatasi masalahnya sendiri. Tapi tampaknya mata dan telinga
saya tertutup, saya benar-benar tidak peka akan kebutuhannya.
Dia
bilang habis pulsa, saya tidak belikan pulsa, dia bilang bensin motornya habis,
saya tidak belikan bensin, dia bilang butuh dana untuk bayar kuliah, saya tidak
melakukan sesuatu untuk meringankannya, padahal saya bisa membantu dia,
walaupun mungkin mengorbankan kebutuhan dan gengsi saya. Namun, pikiran saya
tidak sampai ke sana, saya hanya sebatas mendengar kebutuhannya lalu
melupakannya.
Malalui
ujian keuangan yang kualami, aku sadar betul akan hal ini, yaitu mengorbankan
diri demi kepentingan orang lain, walaupun mungkin aku harus kekurangan
karenanya. Karena apalah artinya jika dapat memberi dari kelebihan kita,
bukankah janda yang miskin telah memberikan teladan yang baik bagi kita dalam
hal ini.
Bagaimana
kita dapat menjadi terang di luar sana, jika di tengah teman-teman dan keluarga,
komunitas dan gereja, kita tidak menunjukan terang dengan cara saling membantu
dan meringankan beban satu sama lain. Kasih itu seharusnya ditunjukkan dengan
saling membantu dan meringankan beban sesama kita, bukan malah cuek dan tidak
peduli akan nasib orang lain, menganggap hal itu adalah medan yang harus dia
perangi sendiri.
Saya
sungguh berterima kasih kepada Tuhan bahwa Ia membuka mata hati saya agar
menjadi lebih peka. Jika seseorang mengatakan dia tidak punya pulsa, itu
artinya dia tidak punya uang untuk membelinya, di situlah saya harus bertindak
dan menunjukkan kasih kepadanya dengan cara membelikan pulsa yang dia butuhkan,
begitu juga dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Harus memandang jauh ke depan,
bukan hanya sebatas melihat, mendengar lalu melupakan kebutuhan dan beban orang
lain, tapi peduli dan praktekkan kasih itu secara nyata dengan saling membantu
dan meringankan beban satu sama lain, agar dia juga tidak tersandung.
Untuk
mencapai pemahaman ini, saya harus melewati masa-masa ujian keuangan, dan
sampai sekarang masih menghadap ujian tersebut. Jika tidak mengalami sendiri
apa yang namanya kekurangan, mungkin saya tidak akan sadar dan tetap cuek
dengan kebutuhan dan beban orang lain.
Saya
menarik kesimpulan dan memahami apa artinya kasir. Jika saya diberi berkat, itu
artinya bukan hanya untuk diri saya dan kepentingan pribadi, tetapi disalurkan
juga bagi orang lain, sekalipun harus mengorbankan kebutuhan dan kepentingan
diri sendiri. Itulah goal nomor 7: Diberkati untuk menjadi berkat.
Sekarang
bukan lagi saatnya hanya untuk memberikan perpuluhan, persembahan dan taburan,
tetapi juga memberi dari kekurangan kita. Tuhan Yesus memberkati.