What hard is good.
Teringat perkataan seorang kakak rohani yang terkasih. “Kalau ada yang
sulit, mengapa harus pilih yang mudah”. Prinsip ini sungguh berbeda jauh
dari prinsip dunia yang selalu mencari kemudahan, kenyamananan,
keuntungan dan jalan pintas.
Jika direnungkan, apa yang
tampak mustahil sebenarnya dapat dilakukan, jika saja kita mau mengerti
prinsip ini dan mau melakukannya, tentu saja dengan penyertaan dan
pertolongan Tuhan.
Melewati proses, terpaan dan ujian-ujian,
sesungguhnya membawa kita pada suatu pencapain yang baru, yang membawa
kita untuk meraih sebuah kesuksesan, yang bersifat kokoh, tidak rapuh
dan tidak dangkal.
Namun sayang sekali, banyak anak muda
yang kehilangan jati dirinya, kehilangan pendirian hanya demi sebuah
kemudahan dan jalan pintas yang sesungguhnya menuju kebinasaan!
Saya berani katakan bahwa orang yang memilih kemudahan dengan cara
busuk, seperti menyogok misalnya, adalah orang yang kasihan. Dia telah
ditipu mentah-mentah, bahkan tanpa disadari telah dibodohi
terang-terangan. Anehnya, tetap merasa puas terhadap hal itu. Itulah
kekalahan yang sesungguhnya, menyerah terhadap kedagingan.
Rasanya begitu memprihatinkan melihat banyak anak muda sekarang yang
tidak pedulian, acuh tak acuh, yang dipikirkan hanya kesenangan dan
keuntungan diri sendiri. Kerjaannya malas-malasan, kompromi, mengeluh,
kerdil, tidak mau belajar, tidak mau berusaha, tidak mau mendengarkan,
tidak mau melihat, tidak mau mencoba, tidak mau berubah dan gampang
menyerah pada tantangan. Orang yang seperti itu tidak akan jadi apa-apa.
Bagi kita yang adalah anak-anak Tuhan, justru tantangan dan tanggung
jawabnya jauh lebih besar. Kita dituntut lebih, apalagi dengan
pengetahuan yang demikian banyak. Apakah kita akan bangkit dan menjadi
dampak? Apakah Tuhan mau memakai kita dan mempercayakan rencana dan
pekerjaannya kepada kita? Apakah Tuhan mau memakai orang yang malas?
Apakah Tuhan mau memakai orang yang lamban, ogah-ogahan, yang kerjaannya
hanya mengeluh? Apakah Tuhan akan mau memakai orang yang tidak mau
belajar?
Tuhan mau memakai orang yang mau berjalan, bahkan
berlari bersama-Nya. Orang yang mau ditempa dan diproses, orang yang mau
bekerja keras dan tahan banting, orang yang mau belajar dari kesalahan,
orang yang mau dikritik dan direndahkan, orang yang punya daya juang.
Orang-orang seperti itulah yang dapat bergerak bersama-sama dengan
Tuhan.
Seorang hamba Tuhan bernama Witness Lee, pernah
mengatakan, orang yang dapat dipakai oleh Allah harus memiliki ketiga
hal ini, yaitu:
1. Allah (takut akan Allah, pengenalan akan Allah dan hubungan pribadi dengan Tuhan)
2. Pendidikan (kapasitas dan pengetahuan)
3. Karakter (karakter, kepribadian yang semakin hari diperbaharui untuk menjadi serupa dengan Kristus)
Orang
yang memiliki kapasitas besar cenderung akan diberikan kepercayaan
besar, sebaliknya, orang yang memiliki kapasitas kecil akan menerima
kepercayaan yang kecil (Matius 25:14:30).
Sayanganya,
banyak kita yang selalu berpegang pada kasih karunia. Berharap Tuhan
akan mengerti dan menerima setiap keadaan kita. Tuhan tidak akan memakai
orang yang demikian. Jika dinasehati untuk berubah, malah membela diri
dengan alasan Tuhan lebih suka memakai orang yang bodoh di mata dunia.
Tapi pertanyaannya, apakah Tuhan mau pakai orang yang malas? Bukankah
kita harus bekerja bersama-sama dengan Dia?
Bukan hanya Tuhan yang bekerja, tapi kita juga harus terlibat aktif (Roma 28:8).
Pembelaan diri di atas adalah gambaran dari kemalasan, malas berusaha,
malas membaca, malas belajar, malas berubah. Mau jadi apa orang yang
demikian. Selamanya akan tinggal dalam sikap hati yang mengasihani diri
sendiri, berharapnya hanya pada kasih karunia dan pengertian Tuhan
terhadap keadaan kita.
Pilihannya ada di tangan kita, apakah kita mau berubah, atau kita hanya begini-begini saja? Apa adanya?
Semua yang kutulis di atas adalah berdasarkan apa yang kudengar dan
kulihat dari kakak-kakak rohani dan orang-orang yang telah mengalami
proses dan kerja keras dalam hidupnya (Tentunya bersama Tuhan).
Berdasarkan pengalaman pribadiku dan juga perenunganku. Kiranya Tuhan
memampukan kita untuk bekerja bersama-sama dengan Dia.